SEJARAH

Buton Selatan telah eksis sejak zaman Kerajaan dan Kesultanan Buton. Dalam Undang-Undang Martabat Tujuh (sekitar tahun 1610), yakni undang-undang Kesultanan Buton pada masa Sultan Buton ke-4, disebutkan daerah-daerah Kesultanan Buton. Kesultanan Buton terdiri atas 72 kadie yang diduduki oleh 30 menteri dan 40 bobato. Sedangkan sisanya menandakan kaum yang memegang pemerintahan di pusat. Dari 70 bagian tersebut dibagi lagi menjadi dua bagian besar yakni Pale Matanayo dan Pale Sukanayo. Di wilayah Pale Matanayo, Menteri Baluwu mengepalai Rongi, Sempa-Sempa, Tambunaloko, dan Kaindea (Distrik Sampolawa) dan Kaoengkeongkea (Distrik Pasarwajo) dengan nama kesatuannya Lapandewa. Selanjutnya Menteri Ketapi di Busoa (Distrik Batauga), Lakina Tobe-Tobe di Tobe-Tobe (Distrik Batauga), dan Lakina Batauga di Batauga (Distrik Batauga) . Di wilayah Pale Sukanayo, Menteri Peropa di Wabula dan Wasuemba (Distrik Sampolawa), Warugana (Distrik Batauga), dan Ballo (Kabaena). Kemudian Menteri Gama di Lipu, Kaufe, Kapea, dan Banabungi (di pulau Kadatua) yang masuk pada Distrik Batauga dan Wakoko Distrik Pasarwajo. Menteri Siompu di Biwina-pada, Molona, Kaimbulawa, dan Lontoi (terdapat di Pulau Siompu) di Distrik Batauga. Selanjutnya Menteri Lantongau di Katokobari (Distrik Mawasangka) dan Saumolewa (Distrik Sampolawa), Lakina Bola di Lakulepa dan Rano (Distrik Batauga), Lakina Sampolawa di Katilombu Uwe-bonto, dan Mambulu (Distrik Sampolawa), Lakina Kambe-Kambero (Distrik Batauga), Lakina Labalawa (Distrik Batauga), Lakina Lawele di Lawele (Distrik Batauga), dan Lakina Laompo di Laompo (Distrik Batauga).

Kesultanan Buton saat ini lebih dikenal dengan nama Kabupaten Buton. Kabupaten Buton adalah salah satu daerah Tingkat II Provinsi Sulawesi Tenggara (sultra), dengan Ibu Kota Kabupaten terletak di Pasar Wajo. Awalnya Kabupaten Buton dengan Ibukota Bau-Bau memiliki wilanyah pemerintahan adalah bekas Kerajaan Buton atau Kesultanan Buton yaitu meliputi sebagian wilayah pulau Buton, sebagian wilayah pu lau Muna, sedikit bagian pulau Sulawesi serta pulau-pulau yang ada di bagian selatan Pulau Buton. Sekarang dengan adanya pemekaran daerah, wilayah itu terbagi menjadi beberapa wilayah kabupaten, yaitu:

  1. Kota Bau-Bau
  2. Kabupaten Wakatobi
  3. Kabupaten Bombana
  4. Kabupaten Buton Selatan (Daerah Otonom Baru)
  5. Kabupaten Buton Tengah (Daerah Otonom Baru)

Kabupaten Buton memiliki wilayah daratan seluas ± km2 dan wilayah perairan laut diperkirakan seluas± 21.054 km2, dimana pada tahun 2011 kecamatan di Kabupaten Buton telah ada 21 kecamatan yang terbagi dalam 178 Desa, 29 Kelurahan, diantaranya Kecamatan Lasalimu, Kecamatan Lasalimu Selatan, Kecamatan Siontapina, Kecamatan Batuatas, Kecamatan Sampolawa, Kecamatan Lapandewa, Kecamatan Batauga, Kecamatan Kapontori, Kecamatan GU, Kecamatan Lakudo, Kecamatan Sangia Wambulu, Kecamatan Mawasangka, Kecamatan Mawasangka Timur, Kecamatan Mawasangka Tengah, Kecamatan Mawasangka Selatan, Kecamatan Talaga Raya, Kecamatan Siompu Timur, Kecamatan Siompu Barat, Kecamatan Pasar Wajo, Kecamatan Wolowa, dan Kecamatan kadatua. Kecamatan yang paling luas wilayahnya adalah Kecamatan Pasarwajo dengan luas 356,40 km2, Lasalimu 327,29 km2 serta Kecamatan Mawasangka dengan luas 271,55 km2 atau masing-masing sebesar 14,31%, 13,14% serta 10,89% terhadap total luas wilayah Kabupaten Buton. Sedangkan wilayah yang paling kecil adalah Kecamatan Batu Atas dengan luas wilayah 7,18 km2 atau 0,29% dari total luas wilayah Kabupaten Buton.
Kabupaten Buton Selatan (BUSEL) merupakan salah satu kategori daerah berkembang di daratan selatan Buton . Kabupaten ini memiliki potensi alam yang dapat dikembangkan untuk mendukung peningkatan penyelenggaraan pemerintahan. Wilayah yang berada tepat disamping Kota Bau-Bau sebagai daerah penting penyangga urbanisasi dari kota ambon. Kini wilayah Buton Selatan telah menjadi kota kabupaten yang juga bersamaan dengan daerah lain seperti kabupaten Buton tengah.